8 Cara Super Membuat Hidup Bahagia (No. 8 Paling Super)

Hidup Bahagia (sumber: pixabay.com)

Siapa sih yang ngga mau hidup bahagia? Hampir bisa dipastikan semua orang mau. Malah sebagian kalau ditanya cita-citanya apa? Hidup bahagia, katanya.

Nah, seperti apa hidup bahagia versi mereka itu? Katanya, hidup yang sesuai dengan keiginan kita. Punya karir cemerlang, rumah besar nan megah, mobil mewah keluaran terbaru, teman-teman yang menyenangkan, semua disebut satu-satu. Kalau dipikir-pikir, memang bakalan menyenangkan sih punya semua itu. Semua terasa lebih mudah. Dengan kekayaan yang melimpah, sepertinya semua bisa dibeli.

Keinginan hanya sekedar keinginan. Masalahnya datang pada saat kenyataan jauh berbeda dengan keinginan. Karir mentok disitu-situ saja. Rumah kecil (malah lebih besar kamar-kamar hotel berbintang di luar sana). Mobil? Ada sih. Tapi mobil tua yang mulai sakit-sakitan. Bawaanya ingin di dorong melulu. Hadeuh…

Sudah berhenti sampai disitu? Ternyata belum. Nengok kiri kanan, pas lihat orang lain, ternyata mereka punya semua yang kita inginkan. Hufts. Rasa makin terpuruk. Makin merasa kecil. Hidup ngga adil, pikirnya. Nasib mulai disalahkan. Why me?, tanyanya. Jadi malas ngapa-ngapain. Semua terasa kurang untuk kita.

Kalau sudah begitu, kebahagiaan tinggal angan-angan. Terbang menjauh begitu saja. Hidup jadi tidak semangat. Ini yang bahaya. Cepat atasi. Raih kebahagiaan yang dicari. Bagimana caranya? Simak yang berikut ini.

 

  1. Sadari, rezeki itu sudah ada yang ngatur.
Rezeki sudah ada yang ngatur (sumber: pixabay.com)

Ada yang dikasih lapang. Ada yang sempit. Semua sudah diatur. Ngga akan deh tertukar. Kalau kita sadar rezeki kita ngga akan tertukar, harusnya kita tenang. Toh, ngga akan ada yang ngambil rezeki kita. Semua sudah ada bagiannya. Jadi, tinggal kita jemput rezeki kita.

 

  1. Ingat, mungkin kita tidak dapat rezeki yang besar, tapi kita tetap punya kehormatan.
Pegang teguh kehormatan (sumber: pixabay.com)

Kita mungkin tidak mendapat sebesar yang orang lain dapat. Tapi, kita tetap bisa punya kehormatan yang sama dengan yang lain. Malah bisa jadi lebih. Kehormatan seperti apa? Kehormatan dengan tidak meminta-minta pada orang lain. Tidak bergantung pada mereka. Jangan sampai nih, kehormatan kita hilang hanya karena kita tidak ikhlas menerima rezeki yang sudah ditakdirkan untuk kita. Minta sana-sini.

Cukuplah dengan rezeki yang kita terima. Jagalah kehormatan kita dengan itu. Jangan pertaruhkan kehormatan kita hanya karena rakus dan tamak.

 

  1. Yakinlah bahwa kehidupan akan jadi lebih baik.
Hidup akan jadi lebih baik (sumber: pixabay.com)

Yakin, bahwa kita akan memperoleh kehidupan yang lebih baik dengan bersikap menerima takdir kita. Tiap orang punya waktunya masing-masing untuk berhasil. Ada yang berhasil waktu masih muda, ada yang sudah tua. Semua ada jadualnya masing-masing. Lagian, hasil itu bukan wewenang kita loh. Tugas kita hanya berusaha dan berusaha. Itu saja. Mengenai hasil, itu di luar area kita. Bukan wewenang kita.

 

  1. Renungkan tentang kekayaan hakiki.
Renungkan kekayaan hakiki (sumber: pixabay.com)

Kekayaan hakiki itu, bisa kita raih pada saat kita jauh dari sifat tamak ataupun pelit. Orang kaya harusnya ngga takut dong hartanya berkurang. Jadi kalau orang merasa kaya tapi masih pelit, itu tandanya dia belum kaya. Dia masih takut kehilangan kekayaannya. Takut kalau berbagi nanti kekayaannya akan berkurang.

Kalau orang yang kelihatan pas-pasan tapi dermawan, mau berbagi, nah itu dia orang kaya yang sesungguhnya. Dia ngga takut kehilangan apa-apa. Karena dia yakin pasti akan ada gantinya entah darimana. Orang yang paling kaya itu adalah orang yang paling sedikit membutuhkan.

 

  1. Lihat kondisi orang-orang yang dibawah kita.
Lihat kondisi orang-orang yang dibawah kita (sumber: pixabay.com)

Merasa orang paling susah di dunia? Mana ada. Selalu ada orang yang dibawah kita. Yang tidak seberuntung kita. Banyak malah. Lihat kondisi mereka. Bantu. Lihat? Dengan kondisi kita yang merasa kurang saja kita masih bisa membantu. Berarti apa? Kita posisinya masih di atas orang lain. Bersyukur saja.

Dengan melihat orang lain yang masih di bawah kita, kita jadi lebih mudah mensyukuri nikmat yang diberikan pada kita. Ternyata sudah lebih dari cukup. Bahkan sampai bisa membantu orang lain. Ya kan?

Dan satu lagi yang harus kita ingat, ada begitu banyak orang di luar sana yang mau berada di posisi kita saat ini. Jadi, bersyukurlah. Be happy.

 

  1. Lihat orang-orang pendahulu kita.
Lihat para pendahulu kita (sumber: pixabay.com)

Lihat pahlawan-pahlawan yang berjuang dulu. Apakah mereka kaya? Tidak. Bergelimang harta? Juga tidak. Malah, dengan jaman perjuangan itu, mereka bisa dibilang hidup dengan sangat sederhana. Terus, apakah itu mengurangi kehormatan mereka? Ngga sama sekali. Mereka tetap dihargai karena jasa-jasanya. Harta mungkin ada di tangan sebagian dari mereka, tapi tidak di hati mereka.

 

  1. Ingat, harta dapat membawa dampak buruk.
Harta bisa berdampak buruk (sumber: pixabay.com)

Berapa banyak orang yang lupa diri karena bergelimang harta? Merasa paling hebat, paling kuat, dan paling berkuasa. Kita harus tetap menjaga jangan sampai harta ini masuk ke dalam hati kita.

Kalau pun kita diberi keluasan rezeki, kita harus manfaatkan dengan sangat-sangat berhati-hati. Karena kita akan dimintai pertanggungjawaban dari setiap rezeki yang kita belanjakan. Barangkali ini juga jadi sebab kenapa kita tidak dititipkan rezeki yang banyak. Takut kita lupa diri. Jadi, sebenarnya kita masih disayang oleh-Nya. Dia ngga mau kita lupa diri.

 

  1. Pahami, beda kaya dan miskin itu tipis. Ini yang paling super.
Kaya dan miskin itu beda tipis (sumber: pixabay.com)

Apa bedanya? Kenapa bisa dibilang tipis? Ini perbandingannya:

  1. Orang kaya makan, orang miskin juga makan.
  2. Orang kayak berpakaian, orang miskin juga berpakaian.
  3. Orang kaya bisa tinggal di rumahnya, orang miskin juga tinggal di rumahnya.
  4. Orang kaya bisa melihat-lihat kekayaannya yang banyak. Orang miskin juga bisa melihat-lihat kekayaan orang kaya (sama saja kan?).
  5. Yang terakhir ini beda, orang kaya akan diminta pertanggungjawaban atas hartanya. Orang miskin? Ya ngga lah. Itu kan punya orang kaya. Masa ikut tanggung jawab? Rugi dong, hehehe.

Beda tipis kan? Lagian ya, rezeki kita itu adalah yang kita manfaatkan. Misal, ada makanan berlimpah-limpah, rezeki kita yang mana? Ya yang kita makan. Yang ngga kita makan? Mungkin dibuang, jadi rezeki hewan-hewan yang memakannya. Atau dikasihkan ke orang lain, jadi rezeki mereka.

Rumah, mobil, uang tabungan, dan sebagainya, itu hanya akan menjadi rezeki kita kita pada saat kita gunakan. Kalau tidak digunakan? Mungkin itu hanya akan jadi rezeki bagi ahli waris kita. Bukan kita.

Hidup bahagia itu mudah. Tinggal kita putuskan apakah kita mau bahagia atau tidak. Tinggal mengubah pola pikir kita menjadi pola pikir bahagia. Terima semua takdir kita. Ikhlas. Be positive. Karena selalu ada hal-hal yang bisa kita syukuri dalam hidup ini.

(Kang Galuh, be positive)

Gabung di t.me/kanggaluhchannel supaya ngga ketinggalan update artikel-artikel menarik lainnya.

Pocket

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *