Anda Ingin Memulai Bisnis? Ini 5 Hal Berbisnis Yang Bisa Dipelajari Dari tukang Perahu Penyeberangan Yang Satu Ini

Pernah lihat jasa penyeberangan sungai yang memakai perahu yang ditarik dengan tali? Hampir setiap hari saya menggunakan jasa penyeberangan ini untuk tiba di tempat kerja. Setiap pagi mengantri untuk diseberangkan ke sisi lain sungai. Setiap hari menggunakan jasa ini, buat saya pengalaman yang biasa saja. Tidak ada yang spesial.

Tapi, beberapa tahun setelahnya, ada perubahan yang menurut saya luar biasa. Saat ini, perahu tersebut tidak lagi ditarik dengan tali melainkan hanya “diparkir” di tengah sungai dan disambung dengan semacam dermaga yang menjorok ke tengah sungai dari kedua ujungnya. Perahu tersebut berubah menjadi jembatan!

Ide yang sederhana tapi hasilnya luar biasa. Sang pemilik mengelola bisnisnya layaknya perusahaan-perusahaan besar. Kenapa saya bilang seperti itu?

Pertama, dengan pengembangan seperti itu, waktu penyeberangan tiap motor menjadi jauh lebih singkat. Tidak perlu lagi antrian motor menunggu untuk diseberangkan. Kapasitas penyeberangan melonjak drastis yang artinya semakin banyak pula pemasukan. Semakin banyak pula motor yang tertarik menggunakan jasa penyeberangan ini. Yang tadinya malas karena harus mengantri dan mencari jalan lain, sekarang tidak lagi. Investasi untuk membuat dermaga penyambung perahu terbayar lunas.

Kedua, layaknya sebuah bisnis yang sudah besar, sang tukang perahu pun tidak lupa dengan tanggung jawab sosial ( = Corporate Social Responsibility) terhadap lingkungan sekitarnya. Sadar akan akses jalan yang gelap tanpa penerangan di malam hari, ia pun memasang lampu penerangan di akses jalan tersebut dari sebagian keuntungan yang ia dapatkan. Banyak orang tertolong dengan penerangan yang ia buat.

Ketiga, sang tukang perahu tidak lupa dengan masalah keamanan dan keselamatan layaknya departement EHS di perusahaan-perusahaan besar. Ia menyediakan pelampung di perahunya mengantisipasi hal yang tidak diinginkan. Juga membantu mengatur lalu lintas untuk motor-motor yang keluar masuk “jembatan penyeberangan” tersebut.

Keempat, ia tidak benar-benar membuat sebuah jembatan. Ia tetap menggunakan perahu yang lama sebagai penyambung kedua sisi dermaga. Pernah suatu saat dermaganya rusak, ia tetap bisa beroperasi dengan cara lama. Dengan ditarik tali. Satu hal yang tidak bisa ia lakukan kalau ia benar-benar membuat sebuah jembatan. Ia membuat suatu rencana cadangan ( = backup plan) jika suatu saat ada kerusakan di dermaga yang dibuatnya. Risk management.

Itu yang dilakukan si tukang perahu. Bisnis sederhana tapi tetap dikembangkan. Hasilnya? Luar biasa. Ia tidak terpaku dengan cara-cara lama. Terus berinovasi dan mencari ide-ide pengembangan. Bahkan sekarang yang menjaga fasilitas penyeberangan ini bertambah menjadi beberapa orang. Ia mempekerjakan warga sekitar yang terbagi dalam 3 shift untuk melayani para pekerja pabrik yang punya jam kerja yang sama. Si tukang perahu pun harus menerapkan manajemen personalia untuk karyawan-karyawannya.

Ia harus mengatur waktu kerja tiap-tiap orang yang bekerja padanya. Mengatur pembagian keuntungannya. Dan segala hal lainnya tentang personalia. Ini menjadi pelajaran yang kelima buat saya. Pelajaran yang bisa kita ambil dari keseharian kita. Yang seringkali luput dari mata kita karena kesibukan.

Pocket

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *