Belajar Dari Sepak Bola (Ngga Sekedar Nonton)

26th MAY 1999, UEFA Champions League Final, Barcelona, Spain, Manchester United 2 v Bayern Munich 1, Manchester United's Teddy Sheringham celebrates after scoring his late equalising goal (Photo by Popperfoto/Getty Images)

Siapa yang tidak suka sepak bola? Olahraga yang paling populer sedunia ini. Dua puluh dua orang berlarian mengejar-ngejar si kulit bundar kesana kemari. Aksi-aksi individu dan kerjasama tim yang menarik untuk disaksikan.

Nah, sebenarnya, ada analogi yang menarik dari olahraga sepak bola ini. Sebuah analogi tentang apa yang terjadi dalam hidup kita. Begini ceritanya.

 

Waktu Permainan

Berapa lama waktu normal sebuah pertandingan sepak bola? Yup, betul sekali, 2 x 45 menit untuk setiap pertandingannya. Setiap tim punya waktu selama 90 menit untuk memenangkan sebuah pertandingan. Kalau kita ibaratkan hidup kita sebagai sebuah pertandingan sepak bola, 2 x 45 menit waktu kita adalah sepanjang umur kita. Selama kita masih hidup di dunia ini. Itulah waktu yang kita miliki untuk melakukan peran kita di bumi ini. Hanya selama itulah kita bisa terlibat dalam “pertandingan” dalam hidup kita.

 

Tujuan Permainan

Apa sih tujuan dari sebuah pertandingan sepak bola? Mencetak gol sebanyak-banyaknya. Itu tujuannya. Pertanyaan selanjutnya, pada saat sebuah tim berhasil mencetak sebuah gol, apakah permainan berakhir? Tidak. Mereka harus terus mencetak gol, gol, dan gol. Sebanyak yang mereka bisa selama pertandingan masih berjalan. Sebanyak mungkin.

Pun begitu dalam hidup kita. Kita harus membuat sebanyak mungkin gol (baca: kebaikan) untuk bisa memenangkan “pertandingan” dalam hidup kita. Memang siapa lawan kita? Tidak lain dan tidak bukan, ia adalah musuh kita di dunia ini. Setan yang selalu menggoda kita untuk berbuat keburukan. Pada saat ia mengajak untuk berbuat keburukan, manakah yang kita pilih? Kebaikan atau keburukan? Kalau kita memilih untuk tetap di atas kebaikan, pada saat itulah kita berhasil mencetak gol. Membuat setan memungut bola dari gawangnya. Dan permain dilanjutkan kembali. Tapi, ada kalanya kita kebobolan. Setan berhasil mencetak gol ke gawang kita. Kita berbuat hal-hal buruk. Tapi selama pertandingan masih berjalan, selalu ada kesempatan untuk membalas gol tersebut. Menyamakan kedudukan bahkan memenangkan pertandingan.

 

Jebakan Offside

Pada saat seorang striker berhasil mencetak gol tapi posisinya ada di belakakang pemain belakang lawan, ia sudah terjebak dalam perangkap offiside lawan. Ia berhasil mencetak gol. Penonton bersorak sorai. Tapi wasit meniup peluit. Apakah gol tersebut dihitung? Tidak. Itu tidak dihitung. Kenapa? Karena ia telah melanggar peraturan. Tidak mengikuti peraturan yang sudah ditetapkan.

Berbuat baik tetap harus mengikuti aturan. Kita tidak bisa berbuat kebaikan a la Robin Hood. Kita tidak bisa bersedekah dari hasil mencuri. Kita bisa membagi-bagikan uang sebanyak apapun pada orang yang membutuhkan. Pada fakir miskin. Tapi ketika uang itu didapat dari hasil mencuri, dari hasil korupsi, apakah sedekah itu akan dihitung? Tidak. Tidak begitu mekanismenya. Tidak begitu cara yang benar. Niat yang benar, hasil yang baik, hanya dihitung pada saat ia dilakukan dengan cara yang benar pula.

 

Saat Permainan Berakhir

Pada saat waktu normal pertandingan berakhir, tidak ada injury time, wasit sudah meniup peluit panjang, kita bisa mencetak gol sebanyak yang kita mau. Malah mungkin sudah tidak ada penjaga gawangnya. Gol, gol, dan gol. Sebanyak yang kita mau kita bisa menendang bola ke arah gawang. Dihitung sebagai gol? Tidak. Karena permainan sudah berakhir. Gol hanya dihitung selama permainan berlangsung. Tidak setelah permainan berakhir.

Kebaikan yang kita lakukan hanya bisa dilakukan selama kita hidup. Setelah itu, kita tidak lagi bisa berbuat apa-apa. Tidak bisa berbuat kebaikan lagi dengan tangan kita. Tapi untungnya, ada beda disini antara hidup kita dan sebuah pertandingan sepak bola. Kebaikan akan terus mengalir pada kita biarpun kita tidak lagi di dunia ini. Darimana? Dari hal baik yang kita lakukan yang masih terus bisa dirasakan manfaatnya untuk yang hidup. Ilmu yang kita ajarkan. Tempat-tempat ibadah yang kita bangun. Perbaikan jalan yang kita sumbang. Anak-anak yang baik yang kita tinggalkan. Selama orang lain yang masih hidup bisa merasakan manfaat dari kebaikan yang kita lakukan, selama itu pula kebaikan itu akan mengalir pada kita. Biarpun kita tidak lagi ada di dalam “permainan”.

 

Siapa Yang Menang?

Pada akhirnya, siapakah yang akan keluar sebagai pemenang? Mereka adalah tim yang paling banyak mencetak gol dalam satu pertandingan. Yang menarik, kita tidak pernah tahu siapa yang akan keluar sebagai pemenang sampai peluit panjang ditiup. Semua bisa berubah dalam sekejap. Bola itu bulat. Masih ingat pertandingan final liga Champion Eropa antara Bayern Muenchen dan Manchester United pada tahun 1999 silam? Sampai waktu normal hampir habis, Manchester United tertinggal 0 – 1. Tapi apa yang terjadi? Mereka berhasil mencetak 2 gol di masa-masa injury time. Semua berubah seketika. Ketika semua merasa permainan akan dimenangkan Bayern Muenchen, Manchester United tidak pernah menyerah selama permainan masih berlangsung. Selama waktu pertandingan masih berjalan. Dan mereka menang!

Hidup itu adalah pertandingan seumur hidup. Kita yang saat ini terpuruk, merasa banyak melakukan keburukan, tidak ada harapan, tetap tidak boleh menyerah. Pertandingan masih berlangsung. Kita masih bisa membalikan keadaan. Kita masih bisa melakukan kebaikan demi kebaikan. Sampai nanti peluit panjang ditiup. Sampai nanti kita tergeletak kelelahan karena panjangnya pertandingan. Tapi kita bisa mengakhiri pertandingan ini dengan senyum di bibir kita. Karena kita telah melakukan semua yang bisa kita lakukan untuk memenangkan pertandingan hidup kita. Karena kita menang.

(Kang Galuh, sambil ngeliatin hujan)

Pocket

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *