Bingung Bergaul Dengan Orang Introvert? Kenali Karakter Orang Introvert Dan Cara Berpikirnya

Kepribadian introvert (pixabay.com)
Kepribadian introvert (pixabay.com)

Apa itu introvert

Kepribadian introvert, sebagian orang sudah tahu itu apa. Sebagian lagi masih meraba-raba. Sebagian lagi malah ngga tahu makanan apa introvert itu. Masih ada saja yang salah sangka dengan kepribadian yang satu ini.

Kesannya selalu pendiam, pemalu, aneh, ngga bisa bergaul, pokoknya jelek-jelek deh.

Sebagai bagian dari kaum introvert,  saya merasa harus membela bangsa introvert ini, hehehe.

Sebenarnya apa sih kepribadian introvert itu?

Saya ngga mau bahas teori, hasil penelitian, dan sebagainya mengenai kepribadian yang satu ini. Baca saja sendiri disini.

Saya cuma mau cerita pengalaman saya waktu kecil dulu sebagai anak introvert.

Saya terlahir normal.

Berat 3,5 kilogram.

Kata ibu saya dulu waktu lahir ketubannya sudah pecah dan meracuni tubuh mungil tak berdosa saya. Badan saya sampai sudah membiru.

Itu kata ibu saya. Saya sih percaya saja.

Mungkin gara-gara hal inilah saya jadi seorang introvert, hehehe.

Ngga lah ya. Ngga ada hubungannya.

Kembali ke masa kecil saya, saya ngga punya banyak teman. Paling satu atau dua orang saja yang bisa dibilang teman.

Yang lain cuma jadi kenalan. Asal kenal. Ngga dekat.

Bukannya apa-apa, waktu itu saya merasa mereka masih kayak anak-anak (padahal memang masih anak-anak, dan saya juga). Waktu itu saya masih SD. Teman-teman saya juga. Namanya teman sebaya (ngga penting ya?).

Nah, anak-anak sepantaran saya ini sukanya ngobrolin masalah mainan, film kartun terbaru, atau apa lah yang kaya gitu-gitu. Yang menurut saya waktu itu ngga ada gunanya.

Ngapain ngomongin hal-hal begitu? Ngga ada manfaatnya.

Mending saya pulang, baca buku (komik sih), sudah.

Atau kalau mau main, ya main video game saja sendiri.

Itu pun yang susah-susah. Yang perlu ngasah otak.

Kayak permainan detektif, misalnya.

Bukan permainan-permainan gampang macam sepakbola atau berantem-beranteman yang biasa dimainkan anak-anak seusia saya waktu itu.

Merasa aneh (pixabay.com)
Merasa aneh (pixabay.com)

Hasilnya?

Saya merasa aneh. Merasa beda sendiri.

Saya bahkan mulai bertanya-tanya, kenapa saya beda dengan mereka?

Apa yang salah dengan diri saya?

Kenapa saya tidak bisa mendapatkan kesenangan dan keseruan yang sama dengan hal-hal yang mereka obrolkan? Yang menurut saya ngga penting untuk diobrolin.

Apa ada yang salah dengan diri saya?

Pertanyaan-pertanyaan macam itu muncul di kepala saya.

Dan namanya anak-anak, mana tahu yang namanya kepribadian introvert dan ekstrovert.

Yang dewasa saja belum tentu tahu. Dan saya pun tumbuh besar dengan perasaan asing itu.

Saya terus tumbuh dengan perasaan merasa berbeda dari yang lainnya.

Anak lain senang main di luar rumah, saya lebih senang di rumah. Mereka lari-larian di jalanan, saya baca buku sambil tiduran di kamar. Mereka main video game sepakbola, saya main game detektif.

Ngga ada sama-samanya.

Malah cenderung bertolak belakang. Minder sih ngga. Cuma merasa aneh saja. Merasa beda.

Belum lagi masalah tampil di depan umum. Mereka seperti berani tampil, misalnya untuk bermain musik, dengan kemampuan yang segitu-segitu saja sudah berani tampil di atas panggung. Dan kelihatan sangat bangga dengan kemampuannya.

Saya? Saya bisa lebih dari mereka, tapi saya tetap merasa tidak percaya diri dengan kemampuan saya. Ngga pede. Ngga berani menunjukkan ke orang banyak apa yang bisa saya lakukan.

 

Waktunya mengenal kepribadian introvert

Keadaan diatas terus berlanjut sampai saya masuk kuliah.

Disitu saya mulai berkenalan dengan yang namanya kepribadian introvert dan ekstrovert. Dan semua misteri itu terkuak.

Misteri yang membuat saya merasa aneh, beda dari anak-anak yang lain.

Yang membuat anak-anak itu juga tidak bisa berteman dengan saya karena kami seperti berada di dunia yang berbeda. Bertolak belakang.

Ternyata, apa yang saya lakukan itu memang karakter orang-orang introvert!

Apa saja? Sebenarnya ada banyak sih, tapi saya capek nulisnya kalau ditulis semua disini. Saya tulis 2 dulu saja. Yang lainnya nanti lah, kalau ingat, hehehe.

  1. Orang introvert ngga suka basa-basi.
Introvert ngga suka basa-basi (pixabay.com)
Introvert ngga suka basa-basi (pixabay.com)

Bukan sekedar basa-basi loh ya.

Obrolan-obrolan yang menurut kami ngga penting, kayak berapa skor pertandingan sepak bola semalam?

Siapa yang menang?

Kostumnya warna apa?

Itu menurut kami ngga penting. Kenapa? Apa manfaatnya tahu hal itu? Itu yang saya  pikirkan.

Beda lagi kalau bahasannya gimana cara memajukan sepakbola negeri ini? Langsung deh tertarik.

Kita harusnya begini, begitu, lakukan ini, lakukan itu. Semua ide macam orang ngerti dikeluarkan. Ngga tahu kalau disuruh praktekin bisa atau ngga. Yang penting, langsung nyerocos ngga berhenti. Karena kalau itu dilakukan, sepakbola negeri ini akan berkembang.

Dan itu penting! Menurut saya sih.

Jadi, kami memang tidak tertarik dengan bahasan yang ringan-ringan saja. Bahasan yang hanya bermain di permukaan.

Kalau mau ngobrol, sekalian yang dalam. Kayak untuk apa kita hidup, mau kemana, mau buat apa 5 tahun mendatang, yang kayak-kayak gitu lah.

 

  1. Orang introvert ngga pedean, itu benar!
Minder (pixabay.com)
Minder (pixabay.com)

Kecenderungan orang introvert memang ngga pede sama dirinya sendiri.

Tapi… bukan ngga pede karena minder melihat orang lain. Bukan karena tidak kemampuan dan keahlian. Melainkan lebih karena orang-orang introvert itu terlalu tinggi membuat standard untuk dirinya sendiri.

Kadang ya, apa yang bisa kita lakukan itu lebih dari cukup untuk membuat orang lain terpukau, misalnya.

Tapi, karena masih dibawah standard yang kami tetapkan sendiri, kami jadi tetap merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Belum jadi apa-apa.

Alhasil, minder bin ngga pede.

Dan ini bisa menjadi hambatan untuk orang-orang introvert.

Saya alami sendiri hal ini.

 

Baca juga:

 

Apa yang orang introvert pikirkan

Ini juga orang sering salah kaprah.

Disangkanya orang introvert itu senangnya berpikir. Merenung. Berpikir tentang arti hidup ini sampai sekecil-kecilnya.

Sampai-sampai ada yang tanya ke saya, sehari berapa jam dipakai untuk merenung?

Saya jawab 24 jam! Hehehe. Ini sedikit tentang bagaimana orang introvert berpikir.

  1. Orang introvert itu bukan senang berpikir atau merenung, tapi memang otaknya sangat aktif.
Bukan merenung, cuma aktif berpikir (pixabay.com)
Bukan merenung, cuma aktif berpikir (pixabay.com)

Stimulus kecil saja bisa dipikir panjang lebar.

Dan itu terjadi secara otomatis. Bukan disengaja.

Bukan cari-cari waktu untuk merenung.

Tapi memang cara kerja otak introvert seperti itu.

Itu juga yang menjadi alasan kenapa orang introvert bisa merasa begitu capek ketika berada di tengah keramaian. Karena terlalu banyak stimulus yang masuk ke otak mereka. Overload. Kelebihan beban. Terlalu banyak informasi yang tercerna, sekali lagi “tercerna”, bukan sengaja dicerna, jadi itu terjadi begitu saja secara otomatis.

Itu, bisa jadi hal yang sangat melelahkan.

Makanya, kalau sudah begitu, biasanya saya akan pulang ke rumah, masuk kamar, baca buku, dengar musik, atau main game sendirian. Re-charge batere energi saya yang terkuras habis.

 

Baca juga:

Hidup sempurna

 

  1. Orang introvert itu proses berpikirnya memang tidak sederhana.
Cara berpikir introvert complicated (pixabay.com)
Cara berpikir introvert complicated (pixabay.com)

Dari mulai ada stimulus masuk, misal informasi, itu akan terus diproses panjang lebar, baru ada respon setelah semua selesai diproses.

Beda dengan orang ekstrovert yang lebih singkat proses berpikirnya. Ngga masuk area berpikir tentang rencana jangka panjang dan lain-lain. Jadi kesannya mereka lebih spontan dan orang introvert jadi terkesan lambat mikir.

Ini benar. Coba perhatikan teman-teman anda yang introvert, dia akan cenderung diam pada saat rapat. Mendengar. Mengamati. Mengobservasi. Baru kasih feedback.

Ya kan? Karena memang proses berpikir mereka seperti itu.

 

Bagaimana bergaul dengan orang introvert

Sebetulnya sama saja dengan orang-orang ekstrovert. Kami juga bisa bersenang-senang, bisa ngobrol panjang lebar. Tapi, ada tapinya.

  1. Kami memang ngga suka basa-basi dan obrolan ringan.
Small talk (pixabay.com)
Small talk (pixabay.com)

Kalau kamu mau bahas masalah berat dan pelik, kami tempatnya.

Tapi kalau sekedar obrolan santai ngalor ngidul, mending cari orang lain deh.

Kami ngga tertarik.

Pun begitu di dunia kerja. Orang introvert itu biasanya deep thinker. Mereka berpikir mendalam. Komprehensif. Mempertimbangkan semua faktor. Mencoba berbagai macam skenario yang mungkin. Sampai benar-benar yakin, baru diutarakan idenya.

Ini bisa dimanfaatkan buat para bos. Tapi satu syaratnya, kasih waktu berpikir.

Jangan banyak dikasih arahan. Kami ngga perlu. Kami bisa berpikir sendiri.

Kasih tahu saja apa ujungnya yang ingin dicapai, kami akan rumuskan jalan untuk kesana. Ngga perlu terlalu detail kasih arahan.

Tapi sayangnya, ini juga bisa jadi hambatan pada saat perlu keputusan yang cepat. Tentang hal ini, saya akan bahas lain kali. Itu juga kalau saya ngga lupa.

 

Baca juga:

 

  1. Kalau mau ajak introvert bersenang-senang, mungkin jauh berbeda dengan yang ekstrovert.
Introvert tidak spontan (pixabay.com)
Introvert tidak spontan (pixabay.com)

Kami tidak spontan.

Ngga meledak-ledak.

Tapi bisa jadi teman ngobrol yang baik.

Kalau butuh didengar, kami dengan senang hati mendengar. Bisa diajak diskusi mendalam tentang permasalahan hidup. Atau apapun yang bukan sekedar bersenang-senang. Yang menurut kami penting dan ada manfaatnya.

Itu kami. Terdengar menyenangkan ngga? Membahas tentang masalah hidup. Ngga ya?

Tapi buat kami itu sangat menyenangkan. Bisa habis berjam-jam ngobrolin masalah yang satu itu.

 

Membesarkan seorang introvert

Beruntung orang tua saya tidak memaksakan saya seperti mereka. Ibu saya ekstrovert tulen. Dengan mudahnya tampil di depan umum yang sama sekali belum dikenalnya. Ngga ada beban. Tapi beliau ngga maksa saya seperti itu. Saya bebas memilih yang saya suka.

Sedikit catatan untuk membesarkan anak-anak introvert.

  1. Introvert dan ekstrovert, itu sama saja.
Beda cara mendidik (pixabay.com)
Beda cara mendidik (pixabay.com)

Ngga ada yang lebih unggul atau kalah. Hanya beda karakter. Beda proses berpikir. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.

Keduanya digabung? Klop. Klik. Saling melengkapi.

Plus ada konflik tentu saja. Namanya juga  beda. Tapi bisa saling menutupi kelemahan satu sama lain.

Caranya tentu dengan menyesuaikan kepribadiannya.

Jangan dipaksakan. Hasilnya ngga akan bagus.

Kepribadian introvert, ya besarkan sebagai introvert. Jangan sebagai ekstrovert. Yang ada malah anaknya stres.

Bijaklah dalam membesarkan mereka.

 

Baca juga:

2 Tanda Anda Orang Bijaksana

 

  1. Biarkan introvert di sifat alaminya.
Biarkan berkembang di lingkungan alaminya (pixabay.com)
Biarkan berkembang di lingkungan alaminya (pixabay.com)

Arahkan dia ke hal-hal yang memang dia nyaman.

Daripada susah-susah mengubah dia jadi ekstrovert, lebih bijak untuk mengasah apa yang menjadi keunggulan alaminya.

Apa saja itu?

Saya akan bahas nanti.

Yang penting, jangan paksa dia jadi orang lain yang anda inginkan.

Biarkan dia menjadi dirinya sendiri.

Orang introvert itu orang yang mandiri. Dia tahu apa yang dia inginkan. Dia tahu dirinya sendiri. Dia sangat mengenal dirinya.

Cukup diawasi agar tidak keluar jalur. Dan dia akan berkembang sampai level yang mengejutkan.

Gimana?

Sudah ada gambaran mengenai kepribadian introvert ini?

Tunggu artikel-artikel saya selanjutnya untuk membahas seluk beluk orang introvert.

Keunggulan, hambatan, dan cara mengatasi hambatannya.

Semoga bermanfaat.

(Kang Galuh, introvert?)

 

Ayo gabung di t.me/kanggaluhchannel untuk artikel-artikel menarik lainnya.

Pocket

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *