Ingin Ide-ide Besar Muncul di Organisasi Anda? Lihatlah pada Truk-truk Besar di Jalan Sempit Ini (Sebuah Analogi)

Melanjutkan kisah saya waktu kepanasan di dalam mobil karena AC rusak (baca: Mendengar Suara Rakyat Itu Sesederhana Membuka Jendela Mobil (Sebuah Analogi)), ada satu hal lagi yang menarik perhatian saya waktu itu. Sudah kepanasan karena AC mati, macet parah, eh tahu-tahu ada truk besar nongol dari arah berlawanan.

Bukan masalah besarnya sih, tapi jalanannya itu loh yang sempit. Cuma dua jalur yang muat untuk mobil pribadi dalam dua arah. Sekecil itu. Mana isinya ngga cuma mobil. Ada juga ratusan, mungkin ribuan motor yang ikut memadati jalan sempit itu. Alhasil jalannya itu truk pelaaaaannn banget. Kadang berhenti karena tidak bisa lewat gara-gara ada motor yang parkir di pinggir jalan. Si empunya motor sendiri lagi asik makan di warteg di sebelahnya. Ngga peduli dengan keadaan sekitarnya.

Dan yang lewat itu bukan truk sembarang truk. Mereka adalah Super Truk! Truk tanah dengan ukuran paling besar! Plus di belakangnya mengekor bus-bus dengan karyawan ukuran yang tidak kalah besar menambah “keceriaan” malam itu, hehehe… Macet pun ngga bisa dihindari. Berhenti total. Sampai ada yang mau mengalah untuk mepet-mepet ke pinggir jalan supaya rombongan truk dan bis itu bisa jalan lagi.

Di tengah segala macam kondisi saat itu, pikiran iseng saya bekerja kembali. Mencari-cari cara supaya bisa bertahan sampai bisa keluar dari kondisi tersebut. Berusaha untuk menikmati semuanya. Karena kalau sampai ngga, bisa stress saya, hahaha… Dan ide ini pun muncul. Kalau saja saya ibaratkan truk dan bus-bus besar itu adalah rombongan ide-ide brilian yang mau lewat, sayang sekali kalau lajunya terhambat hanya karena jalanannya yang sempit. Ini kalau kita analogikan di tempat kita bekerja, ceritanya akan seperti ini.

Sering kita lihat beberapa karyawan yang punya ide-ide cemerlang mentok di tangan bosnya yang tidak mau ada perubahan. Tidak mau susah mengubah kebiasaan yang ada. Ide-ide tersebut dimentahkan. Disempitkan jalannya. Bahkan ditutup. Tidak bisa lewat. Pemikiran-pemikiran besar tersebut berhenti. Tidak dikasih jalan. Pemikiran yang besar tidak akan bisa bertahan di lingkungan yang berpikiran sempit. Malah akan buat macet kemana-mana. Lewat sini mentok. Lewat sana mentok. Ngga bisa lewat. Ngga bisa jalan.

Anda, si truk besar (baca: pemikir besar), kalau anda tersendat di tempat sekarang karena jalan yang dikasih sempit, anda harus mulai cari jalan lain. Jalan yang lebih besar sehingga anda bisa leluasa berjalan menuju tujuan anda. Entah itu dengan berpindah ke kantor yang lebih besar, pangsa pasar yang lebih luas, teman-teman yang lebih mendukung, atau apapun. Yang jelas, truk besar harus lewat di jalan yang besar. Pemikir besar harus berada di lingkungan yang besar. Kalau tidak? Macet!

Anda yang punya anak buah “truk” besar, jangan jadi jalan sempit! Kasih jalan itu truk untuk lewat. Lebarkan jalannya. Anda juga yang akan diuntungkan kalau mereka bisa leluasa bergerak. Jadilah jalan yang lebar. Kasih kesempatan pada mereka untuk membuktikan diri dan mewujudkan pemikiran-pemikiran mereka. Jangan hambat! Apalagi sampai melawan arus. Yang ada malah macet total. Tidak ada yang membuat kemajuan disitu. Fasilitasi mereka. Dukung mereka. Itu yang terbaik.

Sebuah ide besar bisa terwujud manakala dia difasilitasi. Diberi jalan. Untuk anda pembuat jalan (baca: atasan), jangan takut disalip. Justru tugas anda lah untuk membuatkan jalan untuk ide-ide besar bawahan anda. Justru tugas anda lah untuk melebarkan jalan yang sudah ada. Semua untuk kepentingan organisasi. Dan tugas anda si truk besar (baca: bawahan dengan ide-ide brilian), anda tinggal tancap gas pol begitu ada jalannya. Wujudkan ide-ide besar anda. Realisasikan. Anda boleh berbangga dengan keberhasilan anda, tapi jangan lupa, anda tetap harus berterima kasih pada orang yang melebarkan jalan untuk anda.

(Kang Galuh, sambil menikmati macetnya jalan)

Pocket

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *