8 Kisah Nyata Ini Akan Membuat Kamu Berpikir Ulang Untuk Iri Dengan Hidup Orang Lain

Hidup orang lain terlihat lebih baik (pixabay.com)
Hidup orang lain terlihat lebih baik (pixabay.com)

 

Hidup orang lain yang selalu terlihat lebih baik

 

Tulisan saya kali ini tentang keinginan untuk berada di posisi orang lain. Ekstrimnya sih ingin menjadi orang lain. Iri dengan hidup orang lain.

Berandai-andai kalau saja kita seperti orang itu, atau yang itu, atau yang itu. Yang di mata kita kehidupannya terlihat lebih baik dari hidup kita.

Dibilang iri sih ngga, cuma kepingin saja jadi mereka. Di posisi mereka. Menjalani hal yang sama seperti yang mereka jalani.

Kayaknya hidup mereka perfect banget. Persis seperti apa yang kita khayalkan.

Pernah merasa begitu? Atau jangan-jangan kamu sekarang lagi merasa begitu? Hayo ngaku.

Ngga usah jauh-jauh lah ya melihat kehidupan glamor seleb tanah air kita. Yang dekat-dekat saja dulu. Yang ada di sekitar kita. Kehidupan teman-teman di sekitar kita.

Ada yang buat kamu ingin jadi seperti teman-teman kamu?

Apanya?

Kekayaannya? Kepintarannya? Kebahagiaannya? Kesenangannya?

Jujur, saya juga dulu pernah merasa begitu.

Sepertinya kehidupan teman-teman saya lebih baik dari hidup saya.

Sepertinya mereka punya hal-hal yang saya ngga punya, padahal saya ingin.

Sampai saya sadar, kalau ternyata masalah yang sedang mereka hadapi ternyata lebih berat dari saya.

Ngga kebayang sebelumnya.

Seiring berjalannya waktu, semakin yakin bahwa tiap-tiap orang memang hidup dengan masalahnya sendiri. Dengan bebannya sendiri.

Saya jadi berpikir ulang kalau mau iri dengan hidup orang-orang yang saya lihat.

Ini cerita pengalaman orang-orang yang saya kenal, yang saya alami, lihat, atau dengar sendiri dari yang bersangkutan.

Ini, kisah nyata.

 

Hidup yang ngga seenak kelihatannya

 

Saya pernah baca quote begini. “Kalau kamu iri dengan hidup orang lain, kamu juga harus iri sama masalahnya.”

Biar fair. Ya ngga? Masa irinya setengah-setengah?

Nah, yang jadi masalah, kita ngga tahu apa masalah yang mereka hadapi. Lagian, masa sih harus iri sama masalah orang? Mending juga ngga punya masalah. Ya kan?

 

Baca juga:

 

Intinya sih, hidup orang lain itu ngga seenak kelihatannya. Kita saja yang ngga tahu.

Ini ada beberapa pengalaman saya, tentang hidup orang yang kelihatannya enak, tapi ternyata ngga seperti itu. Mungkin bisa dibilang malah ujiannya lebih berat dari saya.

Ini ceritanya.

 

1. Orang-orang yang sudah menikah.

 

 

Menikah (pixabay.com)
Menikah (pixabay.com)

Sering baca di sosmed, beberapa orang kecewa karena belum juga menikah di usianya yang sekarang.

Melihat orang seusianya sudah menikah, jadi ingin menikah juga.

Tapi, kenyataannya, di sekitar saya, ada beberapa orang yang sudah menikah, terlihat senang, tapi belum juga dikaruniai anak.

Sang istri belum juga hamil biarpun sudah menikah bertahun-tahun.

Masalah?

Mungkin. Tergantung apakah mereka menerima atau ngga.

Diluar penerimaan mereka, mereka memang terlihat senang sudah menikah, tapi ada beban lain. Masalah lain.

Ingin punya keturunan. Orang-orang mulai bertanya, kapan punya momongan? Terus seperti itu tiap bertemu orang. Terutama dari lebaran ke lebaran, hehehe.

Dan mereka mulai “iri” melihat orang-orang yang tengah mengandung. Ingin seperti mereka. Mempersiapkan kelahiran sang buah hati.

Atau, ada juga pasangan yang setelah menikah, malah kehilangan perasaan mereka yang dulu.

Hubungan terasa hambar.

Ngga berasa.

Ngga bergairah.

Berharap masih sendiri.

“Iri” melihat yang belum menikah.

Nah loh? Gimana ceritanya nih?

 

Baca juga:

5 Tanda Kamu Benar-benar Sayang Dia

 

2. Orang-orang yang sedang hamil.

 

Kehamilan (pixabay.com)
Kehamilan (pixabay.com)

Yang sudah menikah, ngga kunjung hamil, “iri” melihat yang sedang mengandung. Melihat rekan kerja yang sedang mempersiapkan kelahiran anaknya.

Suka cita terlihat di wajahnya. Bahagia dengan kehamilannya.

Wait, wait!

Jangan “iri” dulu. Ternyata sang bayi dalam kandungan punya masalah kesehatan.

Selang beberapa bulan, jabang bayi pun lahir. Sayangnya, kesehatannya ngga stabil.

Harus masuk ruang perawatan.

Selang dua minggu setelah kelahirannya, sang anak meninggal dunia.

Suka cita kelahiran berganti duka.

Ngga ada lagi tawa disana.

Senang?

Tanya beratnya kehilangan anak sama mereka yang pernah mengalaminya.

Pertanyaannya, masih iri dengannya? Mau menggantikan posisinya? Itu pertanyaan besarnya.

 

3. Orang kaya dengan 9 perusahaan miliknya.

 

Pengusaha sukses (pixabay.com)
Pengusaha sukses (pixabay.com)

Ketemu vendor seorang owner pemilik 9 perusahaan.

Kagum.

Hebat banget, saya pikir. Bisa begitu gimana caranya? Lewat jalan mana?

Kalau sudah begitu mah, mau apa juga tinggal tunjuk. Sekarang saya juga sih. Tapi nunjuk doang. Ngga beli, hahaha.

Balik ke cerita.

Sang pengusaha terlihat low profile, santun. Perfect.

Kekayaannya tidak membuatnya sombong.

Tapi…

Saat krisis ekonomi datang. Perusahaan-perusahaannya kena imbasnya.

Tunggakan hutang mulai menumpuk disana-sini.

Pemasukan berkurang.

Ratusan juta sampai hampir milyaran rupiah menunggu untuk dibayarkan.

Vendor-vendor mulai menagih janji pembayaran.

Wajah mulai berubah. Terlihat lelah memikirkan bagaimana membayar hutang-hutang tersebut.

Apa masih bisa senang? Mau punya hutang milyaran rupiah?

Punya hutang di warteg saja masih bingung.

Itu juga pertanyaannya.

 

4. Artis dunia dengan segala ketenarannya.

 

Konser music (pixabay.com)
Konser musik (pixabay.com)

Yang ini saya baca di berita. Artis-artis dunia, dengan segala kesuksesan dunianya, uang, harta, rumah, dan sebagainya.

Bergelimang harta.

Iri?

Bisa jadi.

Tapi lihat akhir hidupnya.

Dia ditemukan tewas bunuh diri karena depresi.

Depresi? Dengan segala yang dimilikinya?

Siapa yang tahu kisah hidupnya.

Gimana? Mau menggantikan posisinya?

 

5. Jabatan tinggi dan tanggung jawab yang besar.

 

Direktur (pixabay.com)
Direktur (pixabay.com)

Ada seorang petinggi perusahaan, dengan gaji besar, kekuasaan yang besar. Bekerja di kantor yang sama dengan saya. Seorang direktur.

Yang kerja, pasti ingin karirnya bisa sampai sejauh itu.

Menempati posisi tinggi di perusahaan. Kalau bisa yang tertinggi malah.

Belum lagi usahanya di luar pekerjaan. Pemilik sebuah cafe di sebuah kota terkenal.

Tapi, ternyata beliau mengidap anxiety disorder. Sering gelisah tanpa sebab.

Hidupnya ngga lagi tenang.

Selalu gelisah tanpa tahu sebabnya.

Hari-harinya tidak sebergairah dulu.

Yang lagi “iri” sama hidupnya, beneran mau?

 

Baca juga:

Tips Mengatasi Rasa Gelisah

 

Hidup kita yang lebih enak, buat apa iri dengan hidup orang lain?

 

Sekarang coba lihat diri kita. Apa benar hidup kita ngga lebih enak dari mereka?

Ini juga dari pengalaman saya ketika berinteraksi dengan mereka.

 

1. Kita bekerja di tempat yang banyak diminati.

 

 

Pelamar kerja - masih iri dengan hidup orang lain? (pixabay.com)
Pelamar kerja (pixabay.com)

Kalau ngomongin masalah kerjaan, ngga ada habisnya deh.

Ingin bekerja di perusahaan besar, gaji tinggi, tunjangan banyak, dan segala embel-embelnya.

Gara-gara sering ngobrolin itu, tempat kerja sekarang terasa jelek banget.

Ingin cepat-cepat resign.

Ingin resign sih boleh-boleh saja. Untuk perkembangan karir. Tapi, bukan karena merasa tempat sekarang ngga bagus kan?

Ini kenyataannya.

Setiap pagi saya datang ke kantor. Ngga setiap pagi juga sih ada pemandangan ini, tapi ya sering. Jadi, sering pagi saya datang ke kantor (kalimatnya jadi ngga enak ya? hehehe), selalu ada saja kerumunan orang di pos security.

Pada ngapain tuh bergerombol?

Selidik punya selidik, itu adalah gerombolan pelamar kerja di kantor saya.

Saya perhatikan mukanya satu per satu, semua hampir sama. Muka-muka cemas penuh harap.

Saling mengawasi saingannya. Siap bertarung memperebutkan posisi yang terbatas.

Saling berbagi kisah melamar pekerjaan kesana kemari tapi belum kunjung diterima.

Ternyata tempat kerja saya yang dianggap tidak bagus, masih banyak peminatnya!

Mereka dengan senang hati mau menggantikan posisi saya bekerja di tempat ini. At all cost!

Apakah saya mau bertukar tempat dengan mereka? Tentu saja ngga.

Apakah saya iri dengan hidup orang-orang itu? Ini juga ngga.

Itu di tempat kerja saya. Gimana di tempat kamu?

 

Baca juga:

4 Tips Mudah Untuk Bisa Bekerja Sesuai Passion

 

2. Supir perusahaan bermain tenis meja.

 

 

Tenis meja (pixabay.com)
Tenis meja (pixabay.com)

Cerita yang satu ini saya dengar langsung dari salah satu orang dengan jabatan cukup tinggi di perusahaan saya. Seorang General Manager.

Ceritanya begini.

Dia bilang ke saya, suatu kali dia melihat supir-supir perusahaan sedang bermain tenis meja.

Dia bilang ke saya, “Tuh lihat mereka. Kelihatannya senang banget ya? Kayak ngga punya masalah. Padahal kalau dipikir-pikir, berapa sih gaji mereka dibandingkan sama kita. Tapi kelihatannya enjoy banget main tenis meja sambil ketawa-tawa.”

Hm, itu pernyataan seorang General Manager di tempat saya. Entah dia sedang ada masalah apa atau kepikiran apa waktu itu.

Tapi, dari kalimat dan nada bicaranya, saya bisa menangkap kalau dia sudah lama tidak merasakan kesenangan seperti para supir itu.

Pada titik itu, kehidupan para supir perusahaan itu lebih baik dari dia. Mungkin saat itu dia iri dengan hidup orang-orang itu.

 

3. Senangnya dapat 50 ribu rupiah.

 

Uang (pixabay.com)
Uang (pixabay.com)

Yang terakhir ini cerita dari saudara saya sendiri. Orangnya cukup berada. Yah, bisa dibilang ekonominya di atas rata-rata lah.

Saya lupa waktu itu acara apa, tapi waktu itu ada yang bagi-bagi uang ke bude-bude yang datang di acara itu.

Tiap orang dikasi 50 ribu rupiah!

Dan mereka senang sekali dapat uang itu. Ketawa-tawa, bercanda, kayak dapat rejeki nomplok.

Ramai lah pokoknya gara-gara pembagian uang dadakan itu.

Ngga disangka, saudara saya ini bilang, “Senang ya lihat bude-bude. Dapat uang 50 ribu saja bisa senang banget. Saya sudah lama ngga merasa apa-apa dapat uang segitu.”

Nah loh?

Gimana nih logikanya?

Dia punya uang jauh lebih banyak, bisa iri dengan kebahagiaan bude-bude yang “cuma” dapat 50 ribu rupiah?

Sekali lagi saya dapat pelajaran, angka tidak penting. Ngga jaminan kesenangan.

Dia bersedia menukar apa saja untuk mendapatkan kesenangan itu kembali.

***

Baca juga:

Perhiasan Orang Kaya Dan Orang Miskin

 

Jadi, masih ingin seperti orang lain?

Masih iri dengan hidup orang lain?

Pikir sekali lagi.

Kita ngga pernah tahu, beriringan dengan segala kesenangan yang mereka terima, ada beban seberat apa.

Belum tentu kita sanggup menerima beban yang sama. Karena beban itu memang dikhususkan untuk mereka. Dan tiap-tiap orang akan berbeda. Sesuai kemampuannya.

Beban mereka, ngga akan sanggup kita pikul.

Begitu juga beban kita, ngga akan sanggup mereka pikul.

 

Baca juga:

Batas Kemampuan Manusia Menanggung Beban Hidup

 

Banyak berinteraksi dengan orang lain, memberi saya banyak pelajaran bahwa ngga ada hidup sempurna seperti yang kita khayalkan.

Selalu ada kelebihan.

Selalu ada kekurangan.

Bagaimana cerita kamu?

(Kang Galuh, bercerita)

 

Gabung di t.me/kanggaluhchannel supaya ngga ketinggalan artikel-artikel menarik lainnya.

Pocket

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *