Kekuatan Kata-kata

Kata-kata mempunyai kekuatan (sumber: pixabay.com)

Kata-kata itu punya kekuatan. Apapun yang kita katakan, akan mempengaruhi diri kita. Besar atau kecil. Kisah nyata, Thomas Alfa Edison, waktu ia bersekolah dulu, ibunya pernah menerima surat dari sekolah yang mengatakan bahwa dia adalah seorang anak yang bodoh. Sekolah sudah tidak bisa lagi mendidiknya. Menyerah. Ia disarankan untuk belajar saja di rumah. Sang ibu tentu saja sedih menerima pemberitahuan seperti itu tentang anak kesayangannya. Tapi dia tidak mau Edison patah semangat karena surat tersebut. Sang ibu memanggil Edison. Dia bilang padanya bahwa mulai besok dia tidak perlu lagi bersekolah karena dia terlalu spesial untuk belajar di sekolah umum. Sang ibu tidak pernah memberitahukan apa yang sebenarnya tertulis di dalam surat itu.

Singkat cerita, Edison tumbuh besar dengan anggapan bahwa dirinya spesial. Sama seperti surat dari sekolah yang dibacakan ibunya waktu kecil dulu. Dia banyak bereksperimen dan bereksperimen, sampai akhirnya dia menjadi orang yang punya lebih dari 1000 paten di Amerika dengan begitu banyak inovasi yang sudah ia buat. Siapa yang tidak tahu penemu lampu pijar? Dia lah Edison.

Suatu saat, dia membuka surat yang diberikan gurunya. Surat itu masih disimpannya dengan rapi. Dia buka, dan membacanya. Saat selesai membacanya, dia mulai menangis. Dia terkejut. Karena apa yang tertulis disitu ternyata sangat berbeda dengan apa yang ibunya bilang dulu. Dia bukanlah anak yang spesial. Dia adalah anak yang dicap bodoh. Kata-kata ibunya telah menguatkannya. Kata-kata ibunya telah mengubahnya menjadi seperti saat ini. Kata-kata, telah menyelamatkan masa depannya.

Kisah di atas adalah salah satu bukti bahwa kata-kata bisa berpengaruh sangat besar terhadap keyakinan dalam diri seseorang. Kata-kata akan berpengaruh terhadap apa yang akan kita perbuat selanjutnya. Akan sepercaya diri apa kita dalam menghadapi permasalahan yang kita alami nantinya.

Otak kita tidak bisa membedakan antara realita dan imajinasi. Apapun yang otak kita katakan, itu akan dianggap benar. Dianggap sebagai realita dalam otak kita. Ketika kita berkata negatif, secara otomatis otak kita akan membenarkan itu semua. Dia akan menciptakan realitanya sendiri. Kalau sampai kita membuat kata-kata yang negatif itu menjadi realita dalam otak kita, apa jadinya jika realita negatif itu dibawanya ke dunia nyata? Semua yang kita lakukan hanya untuk membuat realita negatif di dalam pikiran itu lahir ke dunia nyata. Kita sendiri yang akan rugi. Ketika kita berkata negatif, otak akan mencari 1001 cara untuk membuatnya jadi benar. Dan untungnya, hal yang sama berlaku juga sebaliknya. Pada saat kita memasukkan kata-kata positif ke dalam otak kita, ia akan mencari 1001 cara untuk membuktikan bahwa apa yang kita katakan itu benar. Dan kita akan mulai bertindak atas dasar kata-kata positif tersebut.

Kalau kita bilang tidak bisa, otak akan akan mencari segala macam cara yang ada untuk membuat kita benar-benar tidak bisa. Dan kalau kita bilang bisa, dia akan mencari 1001 cara untuk membuat kita benar-benar bisa. Ini yang harus dicatat.

Selalu gunakan kata-kata yang positif, terutama pada diri kita sendiri. Jangan pernah bilang ngga bisa. Lebih baik berkata sulit tapi bisa daripada bisa tapi sulit itu. Dampaknya bisa berbeda 180 derajat.

Cerita lain mengenai kekuatan kata-kata, waktu saya lihat salah satu video yang dibagikan di linkedin, ada seorang motivator berbicara bahwa ia punya seorang teman yang sangat bangga pada ayahnya. Dia begitu mencintai ayahnya, sampai-sampai apapun yang dilakukannya hanya untuk membuat ayahnya bangga. Sedangkan sang ayah, bukanlah ayah yang memperhatikan anak-anaknya. Dia hanya menanggapi sekenanya. Apapun yang disampaikan anak-anaknya.

Si anak tumbuh dewasa. Dia berhasil masuk ke universitas ternama dan belajar sangat keras sampai bisa mendapatkan nilai A di semua mata kuliahnya. Di hari kelulusannya, ia menelepon sang ayah. Kebetulan dia kuliah di kota yang berbeda dari tempat tinggalnya.

Ketika telepon itu diangkat, ia langsung berkata dengan semangat, “Ayah, kau pasti akan bangga padaku.”

Tidak ada jawaban dari si Ayah.

Dia melanjutkan lagi, “Aku berhasil lulus dengan nilai A di semua mata kuliahku. Katakan kau bangga padaku.”

Hening sejenak.

“Nak, Ayah sedang sibuk. Ayah telepon lagi nanti.”, jawab si Ayah sambil menutup telepon.

Si anak terdiam. Tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa menangis.

Hidupnya mulai berubah. Dia mulai akrab dengan minuman keras. Dekat dengan narkoba. Semua mulai berubah. Sang motivator suatu kali bertemu dengannya. Ia terkejut dengan perubahan kawan tersebut.

“Apa yang terjadi?”, tanyanya pada sang kawan.

“Ketika orang yang paling kau pedulikan tidak lagi peduli pada hidupmu, buat apa aku juga peduli?”, katanya penuh dengan kekecewaan dan kemarahan.

Beberapa minggu setelahnya, sang motivator mendapatkan telepon dari rumah sakit. Mengabarkan bahwa sang kawan sedang kritis karena overdosis narkoba. Tim medis berusaha keras untuk menyelamatkannya. Tapi, takdir berkata lain. Ia tidak tertolong lagi.

Sang motivator tertegun. Satu kalimat, “Ayah sedang sibuk. Ayah telepon lagi nanti.”, telah mengubah semuanya. Kata-kata itu begitu berdampak besar. Kata-kata yang punya kekuatan. Bahkan kata-kata itu adalah kekuatan itu sendiri. Sayangnya, berlaku negatif. Kalau saja waktu itu ia menggunakan kata-kata yang lain, mungkin ia sudah bisa menolong satu nyawa. Hanya dengan kata-kata.

Jangan remehkan kekuatan kata. Dengan kata, peperangan bisa dimulai. Dengan kata, perdamaian bisa diwujudkan. Dengan kata, apapun bisa kita buat. Jangan main-main dengan kata-kata. Bijaklah dalam berkata. Karena kata-kata adalah kekuatan.

(Kang Galuh, mengagumi kekuatan kata)

Pocket

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *