Perlukah Menjadi Orang “Normal” Supaya Ngga Merasa Kesepian?

Kesepian (pixabay.com)
Kesepian (pixabay.com)

Siapa sih yang mau kesepian? Semua juga maunya banyak teman. Hmmm.. ngga semua juga sih. Tapi kebanyakan begitu.

Senang dikelilingi orang-orang terdekat. Diperhatikan, bisa sharing, cerita, tertawa, ada teman curhat.

Masalahnya, pasti ada sekali waktu kamu merasa sendirian.

Kamu merasa berbeda. Kayak ngga ada yang mengerti kamu. Ngga ada yang menerima kamu.

Akibatnya? Kesepian. Merasa sebatang kara karena merasa berbeda dari orang-orang yang ada di sekitar kamu.

Pernah merasa seperti itu?

 

Gimana supaya ngga merasa kesepian?

Gimana supaya ngga kesepian? (pixabay.com)
Gimana supaya ngga kesepian? (pixabay.com)

Apa sih yang membuat kamu kesepian?

Yang paling sering, kamu merasa kesepian saat kamu merasa berbeda dari orang lain. Merasa aneh sendiri. Benar-benar merasa ngga sama dengan orang kebanyakan.

Kamu merasa kamu ngga “normal”. Sehingga kamu ngga bisa masuk ke dalam suatu komunitas atau lingkungan. Kamu merasa sendirian.

Terus gimana dong supaya bisa diterima dan jadi bagian dari komunitas itu?

Ya jadi orang “normal”. Normal disini artinya kamu berlaku seperti kebanyakan orang di komunitas itu. Menjadi sama. Ngga beda. Kamu jadi bagian dari komunitas itu.

Dengan menjadi “normal”, menjadi sama, kamu bakalan lebih nyambung dalam apapun yang dilakukan disana. Kamu akan diterima. Dan kamu ngga akan merasa kesepian lagi.

 

Klik dan baca juga:

 

Perlukah menjadi orang “normal”?

Perlukah menjadi orang "normal"? (pixabay.com)
Perlukah menjadi orang “normal”? (pixabay.com)

Ini pertanyaan besarnya.

Perlu ngga sih? Jadi orang “normal” itu?

Jadi seperti orang kebanyakan? Kan katanya harus jadi diri sendiri.

Menurut saya, itu tergantung dari lingkungan yang akan kamu masuki.

Orang-orang seperti apa yang ada di dalam lingkungan itu?

Kalau orang-orang yang ada di dalam lingkungan itu lebih baik dari kamu, sebut saja lebih sukses, maka artinya menjadi “normal” disitu sama dengan menjadi sukses. Kenapa ngga ikut? Jadi sama seperti mereka.

Di lingkungan yang lebih baik, kamu akan berusaha menjadi lebih baik juga. Berusaha menjadi “normal”, yang artinya menjadi lebih baik. Lebih sukses.

Dan itu bagus buat kamu.

Jadi, kalau konteksnya seperti itu, menjadi seperti kebanyakan orang itu bagus. Menjadi “normal” itu bagus.

Sebuah kemajuan buat kamu.

 

Kapan menjadi diri sendiri?

Ada waktunya untuk menjadi diri sendiri (pixabay.com)
Ada waktunya untuk menjadi diri sendiri (pixabay.com)

Terus gimana yang katanya kamu harus menjadi diri sendiri?

Pada saat kamu berada di lingkungan yang berada di bawah standar kamu, itulah saatnya untuk menjadi diri kamu sendiri.

Menjadi lebih buruk tentunya bukan kemauan kamu. Masa kamu mau melangkah mundur?

Kalau lingkungan kamu seperti itu, kamu harus tetap menjadi diri kamu.

Kamu akan terasing. Merasa berbeda. Bahkan mungkin dikucilkan. Tapi ingat, orang-orang besar lahir di lingkungan yang sulit dan mereka terlahir berbeda.

Pemikiran mereka di atas rata-rata orang-orang di lingkungan mereka.

Dan mereka ngga lantas menjadi “normal” dengan perbedaan itu.

Mereka tetap dengan pemikiran-pemikiran mereka yang lebih maju dari lingkungannya.

Kenapa kamu ngga?

Di lingkungan yang di bawah kamu, kamu bisa menjadi orang besar loh.

Tetaplah menjadi diri kamu sendiri. Buktikan bahwa kamu memang lebih baik.

Pada saatnya kamu berhasil membuktikan bahwa diri kamu memang lebih baik, percaya deh, orang-orang yang menjauhi kamu sedikit demi sedikit akan mulai mendekati kamu.

Kamu menjadi role model. Contoh buat lingkungan kamu. Dan itu hebat!

Kalau orang-orang di lingkungan kamu mulai mendekat, gimana kamu bakal merasa kesepian? Ya kan?

 

Klik dan baca juga:

 

Jadi perlu ngga menjadi orang “normal”? Atau tetap menjadi diri sendiri?

Jadi "normal" atau jadi diri sendiri? (pixabay.com)
Jadi “normal” atau jadi diri sendiri? (pixabay.com)

Kembali ke pertanyaan ini, jawabannya perlu dan ngga perlu.

Kamu harus kembalikan ada dimana kamu sekarang ini. Apa kondisi yang sedang kamu hadapi.

Apakah kamu perlu menjadi orang “normal” yang lebih baik dari diri kamu sekarang? Atau kamu perlu tetap menjadi diri sendiri yang lebih baik dari lingkungan kamu dan ikut membawa perubahan disana.

Keputusannya ada di tangan kamu.

Bijak-bijaklah dalam melihat dan memilih.

 

(Kang Galuh, beeing normal)

 

“Yuk, klik dan gabung di t.me/kanggaluhchannel supaya kamu ngga ketinggalan update artikel-artikel menarik lainnya.”

Pocket

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *