Menjawab Pertanyaan Seperti Apa Sih Hidup Sempurna Itu?

Hidup yang sempurna (sumber: pixabay.com)

Pertanyaan yang selalu mengusik. Seperti apa sih hidup yang sempurna itu? Sering kita lihat, terutama di media sosial, kelihatan orang-orang begitu bahagia menjalani hidupnya. Mereka jalan-jalan. Foto sana, foto sini. Tertawa-tawa. Beli barang-barang baru dan bagus. Makan di tempat-tempat bagus. Semua yang diimpikan setiap orang. Terus kita bilang, hidupnya sempurna banget. Dia punya semuanya. Harta melimpah. Pekerjaan bagus. Bisa jalan-jalan kemana saja. Perfect.

Kalau tanya ke orang, hidup seperti apa yang mau dijalani, biasanya dijawab hidup bahagia. Tidak ada masalah. Lancar-lancar saja. Semua berjalan sesuai rencana. Smooth. Tidak ada belok-belok. Dan itu sepertinya bisa diraih. At least, di media sosial terlihat seperti itu. Kita lihat ada orang-orang yang bisa melakukan hal itu. Happy ever after.

Kalau iseng-iseng kita pikir lebih jauh, kapan sih kita merasa kita senang? Jawabannya, pada saat kita ingat kesusahan kita dulu. Kapan kita merasa jadi orang kaya? Pada saat kita ingat waktu ngga punya uang. Kapan kita merasa begitu bahagia? Pada saat kita ingat, kesedihan itu sudah berlalu. Semua berpasangan dan saling bertolak belakang. Kalau hal-hal yang kita bilang negatif itu, susah, miskin, sedih, dihilangkan, apakah akan sama rasanya kaya, senang, dan bahagia? Mungkin hal itu malah jadi kehilangan esensinya. Jadi hambar. Karena kehilangan pasangannya.

Hidup sempurna. Hidup yang lengkap. Up and down. Kadang di atas, kadang dibawah. Lengkap, berarti ada semua. Plus atau pun yang negatif. Kaya, miskin. Senang, sedih. Mudah, susah. Semua ada. Lengkap. Jadi sempurna?

Merasa susah, miskin, sedih, itu melengkapi hidup kita. Karena letak kesempurnaan hidup di dunia, justru pada ketidaksempurnaannya. Bukan berarti kita cari atau buat hal-hal negatif dalam hidup kita. Tapi karena itu semua memang tidak bisa dihindari. Kita pasti akan merasakannya. Itu pasti. Hal-hal negatif itu pasti akan ada. Kalau sudah begini, bukankah hidup itu sendiri sudah sempurna dari sananya?

Senang, sedih. Mudah, sulit. Tawa, tangis. Itu sempurnanya hidup di dunia. Ketiadaan hal-hal negatif itu hanya ada di surga. Kalau di dunia semua kesenangan itu bisa dicapai, buat apa ada surga? Nanti surga ngga laku lagi karena semua bisa didapat di dunia. Jangan mencari hidup sempurna itu seperti apa. Hidup kita sudah sempurna. Bersyukurlah. Karena itu sudah seharusnya. Ketika kesempurnaan itu diberi bahkan tanpa kita minta.

(Kang Galuh, mikir opo iki?)

Pocket

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *