Rasa Kehilangan, Seberat Apa?

Siapapun tahu rasa kehilangan
Siapapun tahu rasa kehilangan

Rasa kehilangan. Siapa ngga pernah alami? Hampir semua pernah. Tua, muda, kaya, miskin, semua pernah mengalami.

Rasanya? Bergantung apa yang hilang. Ngga akan sama. Bergantung juga kapasitas menerima kehilangan.

Kehilangan sesuatu ngga berharga, biasa saja. Ngga ada rasa. Semua terasa normal. Hidup berjalan tanpa gangguan.

Kehilangan sesuatu yang berharga? Tanya rasanya sama orang yang pernah mengalami. Apa kata mereka?

Berat, iya. Menyesakkan, iya. Sedih, sudah pasti. Menyesal, mungkin.

Ngga ada yang mau kehilangan. Semua ingin selalu bersama. Terlebih bersama yang dicintai.

Tapi apa hukum dunia? Fana. Ngga ada yang abadi. Hilang, sesuatu yang pasti. Tidak terhindarkan.

Kamu boleh mencintai seseorang. Cintai sedalam yang kamu mau. Tapi ingat, suatu saat akan berpisah. Akan hilang pada waktunya nanti.

Kamu boleh melakukan apapun yang kamu suka. Yang buat kamu senang. Semau kamu. Tapi ingat, suatu saat kamu akan terhenti. Tidak ada lagi waktu buat kamu.

Dunia. Hidup dalam batas waktu.

Umur kita dijatah. Sekian, sekian. Tiap orang berbeda. Siapa duluan, sudah ditentukan. Dan ngga akan pernah ada yang tahu sampai mana jatah kita. Apakah kita masih punya kesempatan atau tidak.

 

Baca dan temukan juga:

 

Atasi rasa kehilangan?

Kamu bisa cari kesibukan. Kamu bisa cari kesenangan. Cari pelarian. Sejenak melupakan. Rehat dari rasa kehilangan.

Tapi tahu ngga? Rasa hilang tetap tidak hilang. Ada saatnya dia kembali.

Lubang besar yang menganga. Ngga akan pernah tertutup kembali.

Kosong. Hampa. Ngga ada gairah. Kehilangan telah mengambil alih hari-hari kamu.

Kehilangan ngga bisa diatasi? Dia tetap ada? Bukankah bisa diisi kembali?

Terisi, tapi ngga sama. Apa bisa dibilang terisi? Mungkin tidak. Rasanya berbeda. Ngga akan pernah sama.

Tapi hidup harus terus maju. Kehilangan bukan berarti terhambat.

Kekosongan bukan berarti mati. Kehampaan bukan berarti terdiam.

Jalan hidup akan selalu ada. Selama kamu hidup. Terbuka di depan sana. Bercabang ke arah yang berbeda. Kamu hanya perlu melangkah. Pilih satu diantara seribu.

Satu, satu, terus melangkah.

Sampai waktu dunia habis.

(Kang Galuh, …..)

 

“Yuk, klik dan gabung di t.me/kanggaluhchannel supaya kamu ngga ketinggalan update artikel-artikel menarik lainnya.”

Pocket

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *