Ingin Hidup Tenang Dan Bebas Dari Gelisah? Jinakkan Monkey Mind Dalam Diri Anda Dengan Cara Jitu Ini

Gelisah karena pikiran (pixabay.com)
Gelisah karena pikiran (pixabay.com)

Gelisah membuat lelah pikiran

Siapa sih yang mau hidup gelisah?

Saya yakin tidak ada.

Gelisah biasanya terjadi pada saat kepala kita penuh dengan pikiran. Kelebat-kelebat pikiran terus muncul sampai akhirnya benar-benar menjadi pikiran di dalam kepala kita.

Takut, marah, sedih, adalah buah dari pikiran-pikiran itu. Selalu dalam bentuk negatif. Semua buruk.

Walau pun kita tahu kenyataan tidak seburuk itu tetapi pikiran sudah terlanjur membenarkan.

Menjadikannya realita di dalam kepala kita sendiri.

Sebagian orang mempunyai pikiran yang sangat aktif. Otaknya tidak bisa berhenti berpikir. Ada saja yang dipikirkannya.

Yang dilihat, didengar, dirasa, atau dibayangkannya, semuanya otomatis akan terpikir hingga akhirnya timbulah kegelisahan.

Biasanya orang-orang dengan tipe kepribadian introvert lebih sering mengalami hal ini karena cara berpikirnya memang sudah terbentuk secara genetika dari sananya.

Ditambah dengan stimulus-stimulus dari luar yang menambah beban berpikirnya.

Terus menerus berpikir seperti itu bisa sangat melelahkan. Capek.

Kita tidak bisa istirahat, tidak tenang, selalu gelisah.

Saya termasuk salah satu tipe yang tidak bisa berhenti berpikir seperti ini. Mudah sekali terpikir tentang sesuatu.

Dan saya merasakan semua yang saya tuliskan di atas.

Karenanya, saya banyak mencari-cari penjelasan tentang hal ini. Sampai akhirnya saya benar-benar me-manage pikiran saya.

 

Baca juga:

7 Tips Kreatif Menyelesaikan Masalah

7 Tips Powerful Keluar Dari Masalah Berat

 

Monkey Mind

Monkey Mind (pixabay.com)
Monkey Mind (pixabay.com)

Ada istilah yang namanya monkey mind.

Pikiran kita diibaratkan seperti seekor monyet yang tidak pernah mau diam.

Terus meloncat kesana kemari dari satu dahan pikiran ke dahan pikiran yang lain.

Kelebat-kelebatan pikiran terus memborbardir otak kita meminta perhatian kita untuknya.

Sialnya, begitu kita kasih perhatian kita, dia malah meloncat lagi ke dahan yang lain.

Terus begitu.

Tidak pernah puas dengan perhatian yang kita berikan.

Tidak mau diam sama sekali.

“Monyet pikiran” ini begitu hausnya akan perhatian.

Dan seringkali, kalau tidak selalu, bertolak belakang satu sama lain.

Contoh sederhana, kalau anda sedang menjalani diet, tiba-tiba ada tukang es krim lewat.

“Monyet” ini mulai menggoda, “Ayo, beli saja.”, begitu katanya.

Terus begitu sampai akhirnya anda pun menyerah dan membelinya.

“Toh, besok masih bisa diet lagi.”, begitu katanya lagi.

Akhirnya kita beli es krim tersebut.

Tidak berhenti disitu, dia terus menggoda untuk membeli dua buah.

Karena hebatnya dia berargumen, kita pun membelinya dua dan mulai memakannya sampai habis.

Kurang ajarnya, begitu es krim itu habis kita makan, dia mengoceh lagi, “Kok malah beli es krim sih? Gimana mau berhasil dietnya? Itu sudah nambah berapa kalori?”.

Begitu seterusnya.

Mendatangkan rasa penyesalan di hati kita.

Padahal tadinya dia yang menyuruh, sekarang sudah beda lagi.

Begitulah cara kerja “monkey mind” ini. Terus berpindah-pindah dari satu pikiran ke pikiran yang lain. Haus akan perhatian. Terus merengek-rengek meminta untuk diperhatikan.

Tapi begitu diperhatikan, langsung berpindah lagi. Mencari perhatian yang lain.

 

Cara mengatasi monkey mind

Memberinya perhatian bukanlah solusinya. Percayalah, saya sudah pernah mencobanya.

Dilawan? Juga jangan. Malah tambah capek.

Energinya terlalu besar untuk dilawan.

Bisa-bisa malah tenaga kita yang terkuras. Ini juga pernah saya coba.

Hasilnya? Capek luar biasa.

Satu-satunya cara adalah dengan bersahabat dengannya.

Bertemanlah.

Hiduplah dengannya.

Biarkan dia berkeliaran.

Jangan diperhatikan. Itu maunya.

Abaikan saja.

Jangan buat ia menjadi besar dengan memberinya perhatian yang dicarinya.

Biarkan saja dia dengan segala tingkahnya. Kita lah yang menguasai pikiran kita.

Kita yang memutuskan apakah kita akan memberinya perhatian atau tidak.

Biarkan dia berkeliaran dengan bebas.

Tapi sekali lagi, jangan diperhatikan. Kita cukup tahu dia ada disana tanpa harus memperhatikannya.

 

Baca juga:

8 Cara Mendapatkan Hidup Bahagia

Menjawab Pertanyaan Hidup Sempurna

 

Saya sudah mencobanya.

Dan berhasil!

Dia lebih tenang sekarang.

Masih berkeliaran. Masih meloncat kesana kemari. Tapi dia tidak lagi mengganggu.

Karena saya lah yang menentukan apakah ia bisa mengganggu atau tidak.

Kalau saya bisa, anda disana, siapapun yang mengalami hal yang sama, pasti bisa juga.

Tidak dalam sehari dua hari, tapi teruslah berlatih untuk tidak memperhatikan si “monyet” ini.

Biarkan dia disana dengan segala kelakuannya.

Sesekali boleh anda bermain dengannya. Tapi andalah yang menentukan berapa lama anda akan bermain denganya. Bukan dia.

“Monkey mind”. Bertemanlah dengannya.

Bersahabatlah dengannya.

Hiduplah dengannya.

Anda lah penguasa pikiran anda. Bukan sebaliknya.

<Kang Galuh, with monkey mind>

 

Gabung di t.me/kanggaluhchannel supaya ngga ketinggalan update artikel-artikel menarik lainnya.

Pocket

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *