Tips Terjebak Macet di Jalan: Control Yourself

Ilustrasi Terjebak Macet (sumber: pixabay.com)

Yang tinggal di kota-kota besar pasti tahu rasanya kejebak macet di jalan. Bisa dibilang setiap hari mereka berkutat dengan kemacetan. Lama kelamaan mereka terbiasa berada dalam situasi seperti itu. Nah, kalau yang tidak biasa kena macet, alias terjebak, ngga tahu bakalan kena macet, ini tips-tipsnya.

Yang namanya kejebak, pasti ngga ada persiapan. Pas berangkat tenang-tenang saja ngga ada pikiran bakal macet sedikit pun. Tapi tiba-tiba, dueng! Kendaraan di depan berhenti. Mengular. Kayak ular naga panjangnya yang bukan kepalang. Karena ngga ada persiapan mental bakalan kena macet, biasanya reaksi pertama kita adalah bilang aduhhh! Terus disusul kesal, marah-marah sendiri kenapa ngga lewat jalan lain, kenapa ngga cek dulu di google maps, dan segala macam emosi jiwa lainnya. Stress pun datang mendadak tanpa diundang. Padahal semua reaksi itu ngga akan mengubah apapun. Macet ya tetap saja macet.

Kalau sudah kejebak macet, apa yang bisa kita lakukan? Ada beberapa hal sebenarnya yang bisa kita lakukan. Ini dari pengalaman berkali-kali kejebak macet (hahaha, ngga belajar-belajar). Pertama, mulai deh hilangkan keinginan untuk cepat sampai. Atau untuk sampai on time. Kenapa harus hilang? Karena pada saat keinginan ngga sama dengan kenyataan, stress yang akan datang. Kecewa. Rugi sendiri. Stress iya, keadaan tetap ngga berubah. Jadi buat apa? Ya ngga?

Hal kedua yang bisa dilakukan, amati sekitar kita. Banyak loh hal-hal menarik di jalanan. Di pinggir-pinggir jalan. Mulai dari bentuk-bentuk bangunan yang aneh. Warna-warna rumah yang unik. Atau muka orang dengan segala macam ekspresinya. Biasanya kalau lagi ngga macet, boro-boro kita perhatiin. Ya kan? Nah, pas macet, itu kesempatan kita untuk mengamati. Siapa tahu ada ide-ide kreatif hasil dari pengamatan itu. Ya ngga sih?

Ketiga, satukan badan dan pikiran di satu tempat, di satu waktu. That is the present moment. Jangan biarkan pikiran melayang-layang meninggalkan badan kita. Ntar kalau ngga bisa balik gimana? Hehehe… Kita harus benar-benar berada di detik itu. Momen itu. Rasakan kemacetannya. Rasakan udara sekitar kita. Rasakan bahwa kita benar-benar hadir disana. Itu lebih baik daripada pikiran melayang-layang ke tempat tujuan atau tempat lain yang kita pikir bakalan ngga macet. Sekali lagi, hal itu ngga akan mengubah keadaan.

Terima keadaan bahwa kita sedang terjebak macet. Itu yang keempat. Jangan menyangkal apalagi menyesal. Kalau sampai menyangkal dan menganggap itu ngga macet, malah bahaya. Bisa-bisa kita main tancap gas saja menabrak mobil-mobil di depan kita. Menyangkal kenyataan itu butuh energi. Buat apa menghabiskan energi untuk hal-hal yang tidak akan mengubah apapun. Mendingan pakai energi itu untuk menikmati keberadaan kita saat itu. Untuk mengamati sekitar kita. Untuk tetap mengelola stress dengan baik.

Intinya, kalau kita kejebak macet kapan pun, kendalikan apa yang ada dalam diri kita. Karena itu satu-satunya hal yang bisa kontrol. Kita ngga punya kontrol atas apa yang ada di luar kita. Macet ya macet. Apapun yang kita lakukan ya kita tetap harus melewati macet itu. Yang harus diingat, jangan sampai keadaan menyetir bagaimana kita bereaksi. Kita punya hak untuk memilih reaksi kita terhadap keadaan yang terjadi pada diri kita. Gunakan hak memilih itu. Pilih yang terbaik dari sekian banyak pilihan bagaimana kita bereaksi. Itu (ala motivator ternama).

(Kang Galuh, sambil mengingat-ingat rasanya macet)

Pocket

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *